Kehidupan Politik, Sosial & Agama Masyarakat Kalingga dan Sriwijaya

BAB I

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Kata “Sriwijaya” berasal dari Bahasa Sanskerta yang mengandung dua suku kata yaitu “sri” berati cahaya dan “wijaya” berarti kemenangan. Jadi, Sriwijaya berarti “kemenangan yang bercahaya”, karena Sriwijaya adalah salah satu dari beberapa kerajaan terbesar dalam sejarah Nusantara. Kerajaan ini muncul pada abad ke-7 M dan dikenal sebagai kerajaan maritim yang kuat  dengan daerah kekuasaan membentang dari Kamboja, Thailand, Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.

Bukti awal mengenai keberadaan kerajaan ini berasal dari abad ke-7 M, seorang pendeta Tiongkok bernama I-Tsing menulis bahwa ia mengunjungi Sriwijaya pada tahun 671 M dan tinggal selama 6 bulan di sana. Selain catatan I-Tsing, keberadaan Sriwijaya juga terbukti dalam beberapa prasasti dan candi, antara lain :

  1. Prasasti Kedukan Bukit (605 Saka : 683 M)

Prasasti ini berbahasa Sanskerta yang menyebutkan tentang perjalanan suci (Shidartayatsa) yang dilakukan oleh Dapunta Hyang dari Minangatamwan. Perjalanan tersebut berhasil menakhlukan beberapa daerah.

Prasasti Kedukan Bukit digunakan sebagai dasar untuk menentukan ibukota Sriwijaya oleh para ahli. Dan jika ditelusuri melalui bukti-bukti yang ada, ibukota Kerajaan Sriwijaya adalah Minanga. Prasasti Kedukan Bukit berangka tahun 604 saka (682 M) ditemukan di daerah Kedukan Bukit, di tepi Sungai Tatang, dekat Palembang.

Adapun isi prasasti Kedukan Bukit, adalah sebagai berikut:

“ Svasti cri cakavarsatita 605 ekadaci cuklapaksa vulan vaicakha dapunta hyang nayik di samvau mangalap siddhayatra di saptami cuklapaksa jyestha dapunta hyang marlapas dari minan tamvar (kamvar) mamava yang vala dua laksa ko dua ratus cara di samvau dangan jalan sarivu tlu ratus sapulu dua vanakna datang di matada (nau) sukhacitta di pancami cuklapaksa vulan asada laghu mudita datang marvuat vanua … crivijaya jaya siddhayatra subhika …”

Terjemahan :

“ Selamat bahagia pada tahun saka 605 hari kesebelas dari bulan terang bulan Waisaka Dapunta Baginda naik perahu mencari rezeki pada hari ketujuh bulan terang bulan Jyesta Dapunta Baginda berlepas dari Muara Kampar membawa askar dua laksa dua ratus orang di perahu yang berjalan seribu tiga ratus duabelas banyaknya datang di Matada dengan suka cita pada hari kelima bulan terang bulan Asada dengan lega datang membuat negeri … Sriwijaya yang berjaya yang bahagia yang makmur.”

Poerbacaraka memiliki pendapat bahwa Minanga adalah pertemuan antara Sungai Kampar Kanan dan Kampar Kiri, sehingga beliau berpendapat bahwa ibu kota Sriwijaya adalah di Minangkabau. Muhammad Yamin mengartikan Minanga Tanwan adalah air tawar dan Sriwijaya ibu kotanya terletak di Palembang. Bukhori berpendapat sama dengan Muhammad Yamin bahwa ibu kota Sriwijaya terletak di sekitar daerah Palembang.

Prasasti Kedukan Bukit isinya menceritakan bahwa pada tanggal 11 Waisaka 604 (23 April 682), Raja Sriwijaya yang bergelar Dapunta Hyang naik perahu memimpin operasi militer. Lalu pada tanggal 7 paro terang bulan Jesta (19 Mei) Dapunta Hyang berangkat dari Minanga Tamwan untuk kembali ke ibu kota. Mereka bersukacita karena pulang dengan kemenangan. Pada tanggal 5 Asada (16 Juni) mereka tiba di Muka Upang (sebelah timur Palembang). Sesampai di ibu kota, Dapunta Hyang memerintahkan pembuatan bangunan suci sebagai tanda rasa syukur.

  1. Prasasti Talang Tuo (606 Saka : 648 M)

Prasasti berisi tentang perbuatan kebun (taman) yang diberi nama Sriksetra atas perintah Dapunta Hyang Srijayanegara untuk tempat rekreasi rakyat Sriwijaya serta untuk kemakmuran semua makhluk. Dimuat juga doa-doa agama Buddha Mahayana di dalam prasasti ini.

  1. Prasati Telaga Batu (tanpa angka tahun)

Prasasti ini berbahasa Melayu dan berhuruf Pallawa, berisi tentang kutukan-kutukan kepada siapa saja yang tidak tunduk kepada raja. Ditemukan di Telaga Batu dekat Palembang.

Prasasti Kota Kapur adalah temuan arkeologi prasasti Sriwijaya yang ditemukan di pesisir barat Pulau Bangka. Prasasti ini dinamakan menurut tempat penemuannya yaitu sebuah dusun kecil yang bernama “Kota Kapur”. Prasasti ini ditulis dalam aksara Pallawa dan dengan bahasa Melayu Kuno, serta menjadi salah satu dokumen tertulis tertua berbahasa Melayu. Prasasti ini ditemukan oleh J.K. van der Meulen pada bulan Desember 1892.

Pertama kalinya, prasasti ini dianalisis oleh H. Kern, ahli epigrafi bangsa Belanda yang bekerja pada Bataviaasch Genootschap di Batavia. Awalnya, ia menganggap “Śrīwijaya” adalah nama seorang raja. George Coedeslah yang kemudian mengungkapkan bahwa Śrīwijaya adalah nama sebuah kerajaan besar di Sumatra pada abad ke-7 M, yaitu kerajaan kuat yang pernah menguasai bagian barat Nusantara, Semenanjung Malaysia, dan Thailand bagian selatan.

  1. Prasasti Kota Kapur (608 Saka : 686 M)

Prasasti ini ditemukan di Pulau Bangka dengan huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta yang berisi tentang permohonan kepada dewa untuk menjaga kerajaan Sriwijaya dan menghukum siapa saja yang akan bermaksud jahat. Prasasti ini juga menyebutkan tentang penyerangan Sriwijaya ke sebuah kerajaan (kemungkinan adalah kerajaan Tarumanegara).

Isi dari prasasti kota kapur adalah (terjemahan) :

“ Bahagia … (mantra persumpahan yang tidak diketahui artinya) … hai kamu sekalian dewa-dewa yang mulia hadir jaga Keraton Sriwijaya kamu sekalian dewa-dewa yang menjadi permulaan segala sumpah manakala di dalam bumi di bawah perintah keraton ini semua ada orang (berlaku) jahat, semaksud dengan orang jahat, menegur orang jahat, ditegur orang jahat, sepakat dengan orang jahat, tidak mengindahkan, tidak tunduk, tidak setia, akan daku dan akan dia yang kuberi kedudukan (menjadi) datu, sangat (busuk)-lah perbuatan orang itu, (maka) ia dibunuh oleh sumpah, disuruh pukul ia terutama (oleh) perintahnya datu sriwijaya rusak pula dengan saudara-saudaranya, begitu sekalian orang yang perbuatannya jahat, membikin rusak pikiran orang, menyakiti, membikin gila, melakukan mantra guna-guna, mempergunakan bisa (racun) upas tura sirih setangkai (yang telah dibubuhi guna-guna), pengasih paksaan, (perbuatannya yang jahat itu mudah-mudahan) pulang kembali kepada yang yang berdosa berbuat jahat itu. Lagi pula, ia dibunuh oleh sumpah, terutama pula yang menyuruh berbuat jahat akan batu yang dipasang ini dibunuh pula oleh sumpah rusak pula terutama sekehendaknya orang yang berlaku jahat, tidak tunduk, tidak setia akan daku, sangat (busuk)-lah perbuatannya, dibunuhlah ia oleh sumpah ini manakala gerangan ia tunduk setia akan daku dan akan dia yang kuberi kedudukan menjadi datu lagi baik perbuatannya dengan sanak saudaranya. Untunglah ia selamat, tidak kena penyakit, tidak kena celaka, dan makmur pula di seluruh daerahnya. Tahun Saka telah berjalan 608, pada tanggal satu paruh terang pada bulan Waisaka tatkalanya sapata sumpah ini dipahat di batasnya kekuasaan Sriwijaya yang sangat berusaha menaklukkan bumi Jawa yang tidak tunduk kepada Sriwijaya.”

  1. Prasasti Karang Berahi

(608 Saka : 686 M)

Prasasti karang berahi ini ditemukan di Jambi dan berisi mengenai keterangan-keterangan penguasaan Sriwijaya atas daerah Jambi.

  1. Prasasti Palas Pasemah

Prasasti ini ditemukan di Palas Pasemah (Lampung) tanpa keterangan tahun. Di dalamnya, menceritakan bahwa daerah Lampung Selatan telah diduduki atau dikuasai oleh Kerajaan Sriwijaya pada akhir abad ke-7 M.

  1. Prasasti Ligor

Prasasti Ligor ditemukan di Tanah Genting (Thailand) dan menunjukkan angka tahun 775 M.

Prasasti Ligor A

“Pujian terhadap raja Sriwijaya yang di ibaratkan bagai Mnu yang memberi berkah bagi dunia menyerupai Indra dan semua raja tetangga taat kepadanya ditulis pula pendirian sebuah bangunan batu trisamayacahtya untuk padma, pani, sakyamuni, dan wajrpani”.

Prasasti Ligor B

“Pujian bagi raja yang berhasil menaklukkan musuh-musuhnya dan merupakan wujud kembar dewa kasta yang kekuatannya disebut (sebagai dewa) Wisnu kedua, mematahkan keangkuhan semua musuhnya (Sarwarimadawimthana). Ia adalah keturunan dari (keluarga Syailendra) yang tersohor disebut Srimaharaja.”

Prasasti Ligor yang ditemukan di semenanjung tanah Melayu ini menceritakan tentang Raja Sriwijaya dan pembangunan trisamayacahtya untuk menyembah dewa-dewa agama Buddha, serta menyebutkan seorang raja bernama Wisnu dengan gelar Sarwarimadawimathana atau pembunuh musuh-musuh yang sombong dengan tiada bersisa.

  1. Prasasti Nalanda

Prasasti Nalanda ditemukan di Benggala (India) dan berangka tahun 860 M. Prasasti Nalanda dikeluarkan oleh Raja Dewa Paladewa. Isinya menyebutkan tentang pembangunan tempat tinggal bagi para pelajar dan pendirian bangunan biara di Nalanda oleh Raja Balaputradewa, Raja Sriwijaya yang menganut agama Buddha.

Prasasti Nalanda Kompleks Universitas Nalanda yang dibangun oleh Balaputradewa
  1. Prasasti Amoghapasha

Prasasti yang berangkakan 1286 M ini ditemukan di Jambi dan prasasti ini menyebutkan bahwa raja Kertanegara telah menghadiahkan arca amoghapasha kepada raja Suwarnabhumi yang bernama Tribhuwanaraja Mauliwarmadewa.

  1. Prasasti Bukit Siguntang

Prasasti Bukit Siguntang terletak di Palembang. Prasasti ini memiliki isi tentang peperangan yang merenggut banyak nyawa, Bukit Siguntang sendiri merupakan kompleks pemakaman raja-raja Kerajaan Sriwijaya. Selain prasasti, ditemukan juga peninggalan Kerajaan Sriwijaya dalam bentuk arca Buddha Sakyamuni yang berjubah.

Prasasti Bukit Siguntang Arca Buddha Sakyamuni
  1. Candi Muara Takus

Candi Muara Takus merupakan sebuah komplek percandian yang cukup besar dan luas sebagai simbol dari puncak kejayaan Kerajaan Sriwijaya dan menjadi salah satu peninggalan bersejarah dari Kerajaan Budha Sriwijaya yang termasyur. Muara Takus berada di Kecamatan XIII Kota Kampar, Kabupaten Kampar, ± 135 km dari kota Pekan Baru, Riau.

Lokasinya yang tidak sulit dijangkau membuat candi ini dapat dengan mudah dikunjungi dengan perjalanan darat kurang lebih 3 jam dari Pekan Baru, Riau. Letaknya yang juga di tepi sungai Kampar Kanan dapat dicapai dengan mudah dari jalan lintas Riau – Sumatera Barat yang berjarak sekitar 20 km.

Sampai saat ini belum ada bukti sejarah yang bisa menunjukkan kapan tepatnya Candi Muara Takus dibangun. Tetapi secara pasti, candi ini telah ada pada jaman kejayaan Kerajaan Sriwijaya.

Candi Muara Takus pertama kali ditemukan pada tahun 1860 oleh seorang arkeolog bernama Cornet D. Groot. Bangunan candi ini terbuat dari beberapa jenis batu yaitu batu bata, batu pasir, dan batu sungai, serta dikelilingi oleh bangunan semacam pagar tembok yang terbuat dari batu bata berukuran cukup besar yaitu sekitar 74 × 74 cm.

Para ahli mengatakan bahwa batuan yang dipakai untuk membangun Candi Muara Takus ini berasal dari tanah di sebuah desa di dekat candi yang bernama Pongkai, yang terletak sekitar 6 kilometer dari candi. Dalam bahasa China, kata Pong artinya lubang, sedangkan kai berarti tanah. Jadi, kemungkinan besar desa Pongkai dinamai berdasarkan kondisi desa di mana banyak ditemukan tempat dengan tanah yang berlubang besar akibat pengerukan tanah besar-besaran untuk digunakan membuat batu candi.

Kompleks bangunan Candi Muara Takus sendiri terdiri dari beberapa bangunan utama yaitu :

  1. Candi Mahligai

Candi Mahligai atau yang juga disebut dengan Stupa Mahligai adalah bagian candi yang sangan megah terlihat. Selain itu bangunan ini masih terlihat utuh tanpa kerusakan berarti.

Candi Mahligai berbentuk stupa yang terbagi menjadi 3 bagian yaitu kaki, badan, dan atap. Candi ini berdiri di atas sebuah pondasi dengan ukuran 9,44 x 10,6 meter. Pintu masuk candi ini ada di sebelah selatan, dan bagian dasar candi dikelilingi dengan 28 sisi.

  1. Candi Tua

Candi Tua sering pula disebut oleh masyarakat sekitar dengan sebutan Candi Sulung. Candi Tua adalah bangunan yang paling besar diantara bangunan lainnya di kompleks candi ini. Secara umum candi sulung dibagi menjadi 3 bagian yaitu kaki candi, badan candi, dan atap candi.

Kaki candi tua merupakan sebuah bentuk lingkaran dengan diameter sekitar 7 meter, terdiri dari 2 bagian, yang pertama setinggi 2,37 meter dan bagian kedua setinggi 1,98 meter. Bangunan ini dapat dilihat memiliki tangga selebar 3,08 meter dan 4 meter di bagian barat dan timur. Pada bagian samping tangga terdapat arca singa sebagai penjaganya. Bangunan ini sisi dasarnya terdiri dari 36 sisi, dan walaupun besar namun candi ini tidak memiliki ruangan kosong di dalam candi.

  1. Candi Bungsu

Candi Bungsu terletak tepat di sebelah barat candi mahligai dengan bentuk mirip dengan candi sulung. Candi dengan atap berbentuk segi empat ini memiliki ukuran 13,20 x 16,20 meter dengan stupa-stupa kecil dan sebuah tangga di bagian timur candi.

Bagian pondasi bawahnya terdiri dari 20 sisi dengan sebuah bidang di atas. Uniknya bangunan ini dibangun dengan menggunakan 2 bahan yang berbeda. Di bagian utara dibuat dengan menggunakan bahan batu pasir, sedang di bagian selatan menggunakan batu bata.

Penelitian yang pernah dilakukan oleh seorang peneliti bernama Yzerman pernah menemukan sebuah lubang di tepi padmasana stupa. Di dalam lubang itu ditemukan tanah dan abu dengan 3 potongan emas di dalamnya dan 1 kepingan lainnya ada di dasar lubang dengan goresan gambar tricula dan 3 huruf nagari. Selain itu ditemukan juga sebuah potongan batu persegi yang digores dengan gambar tricula dan juga sembilan huruf pada salah satu sisinya.

  1. Candi Palangka

Candi palangka ini berdasarkan penelitian, dahulu diperkirakan dipakai sebagai altar. Bangunan yang tepat berada di bagian timur candi mahligai ini mempunyai ukuran 5,10 x 5,7 meter dengan ketinggian yang mencapai 2 meter.

Di akhir abad ke-8 beberapa kerajaan di Jawa, seperti Tarumanegara berada di bawah pengaruh Sriwijaya. Berdasarkan isi dari prasasti Kota Kapur, Sriwijaya menguasai bagian selatan Sumatera hingga Lampung serta menguasai perdagangan di Selat Malaka, Laut Cina Selatan, Laut Jawa, dan Selat Karimata.

Perluasan wilayah ke Jawa dan Semenanjung Melayu (Malaysia), menjadikan Sriwijaya menguasai dua pusat perdagangan utama di Asia Tenggara. Catatan atau bukti peninggalan Sriwijaya memang tersebar di berbagai negara yang pernah berada dalam kekuasaannya.

Kota Indrapura di tepi sungai Mekong, di awal abad ke-8 berada di bawah kendali Palembang sedangkan Sriwijaya meneruskan dominasinya atas Kamboja, hingga akhirnya Raja Khmer Jayawarman II (pendiri imperium Khmer) memutuskan hubungan dengan kerajaan di abad yang sama.

Pada masa Samaratungga berkuasa (792 sampai 835 M), ia lebih memusatkan perhatian pada penguasaan wilayah di Pulau Jawa. Pada masa kepemimpinannya itulah Candi Borobudur di Jawa dibangun dan selesai pada tahun 825 M.

Pada abad ke-12, luas wilayah Sriwijaya meliputi Sumatera, Sri Lanka, Malaysia (Kelantan, Kedah, Pahang, misalnya), Jawa Barat, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, dan Filipina. Dengan penguasaan tersebut, kerajaan Sriwijaya menjadi kerajaan maritim besar.

Kekuatan Sriwijaya mulai pudar pada sekitar tahun 1000, hal ini disebabkan oleh Rajendra Chola (Raja Chola dari Koromandel, India Selatan) yang menyerang Sriwijaya dalam tiga gelombang (1017 M, 1025 M (pasukan India Selatan menaklukkan Kedah dari Sriwijaya dan menguasainya), dan 1068 M). Meskipun serbuan Chola tidak berhasil sepenuhnya, tetapi serangan-serangannya memberi dampak yang sangat besar. Beberapa negara kecil yang tadinya berada di bawah kekuasaan Sriwijaya melepaskan diri.

Pada tahun 1288, Kerajaan Singasari melakukan “Ekspidisi Pamalayu”. Ekspidisi di sini bisa berarti “penyerangan”. EkspidisiPamalayu berhasil meruntuhkan Palembang dan Jambi.

Selanjutnya, pada tahun 1293 Sriwijaya tunduk pada kekuasaan Kerajaan Majapahit.

Pada tahun 1402, Parameswara, pangeran terakhir Sriwijaya mendirikan Kesultanan Malaka di Semenanjung Malaysia. Pada pergantian abad itulah keberadaan Sriwijaya sebagai sebuah kerajaan berakhir.

Kerajaan Kalingga atau disebut juga Kerajaan Holing diperkirakan terletak di utara Jawa Tengah. Kalingga telah ada pada abad ke-6 Masehi dan keberadaannya diketahui dari sumber-sumber Tiongkok.

Berdasarkan namanya, kemungkinan kerajaan Kalingga didirikan oleh beberapa orang kelompok dari India. Diperkirakan mereka berasal dari Orisa. Mereka melarikan diri karena Orisa dihancurkan oleh Maharaja India bernama Asoka. Dalam pelarian itulah mereka meneukan Pulau Jawa dan mendirikan kerajaan.

Keberadaan Kerajaan Kalingga terbukti dengan ditemukannya

  1. Prasasti Tukmas ditemukan di lereng barat Gunung Merapi tepatnya di Dusun Dakawu, Desa Lebak, Kecamatan Grabag Magelang di Jawa Tengah. Prasasti ini menyebutkan tentang mata air yang bersih dan jernih. Sungai yang mengalir dari sumber air tersebut disamakan dengan Sungai Gangga di India.
  2. Prasasti Sojomertodi Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Prasasti ini beraksara Kawi dan berbahasa Melayu Kuno dan berasal dari sekitar abad ke-7 Masehi. Prasasti ini bersifat keagamaan Siwais. Isi prasasti memuat keluarga dari tokoh utamanya, Dapunta Selendra, yaitu ayahnya bernama Santanu, ibunya bernama Bhadrawati, sedangkan istrinya bernama Sampula. DapuntaSelendra adalah cikal-bakal raja-raja keturunan Wangsa Sailendra yang berkuasa di Kerajaan Mataram Hindu.
  3. Candi Bubrah di Desa Tempur Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara Jawa Tengah.

Catatan dari berita Cina menyebutkan bahwa sejak tahun 674, rakyat Ho-ling diperintah oleh Ratu Sima (Simo). Ia adalah seorang ratu yang sangat adil dan bijaksana. Pada masa pemerintahannya Kerajaan Ho-ling sangat aman dan tentram.

Putri Maharani Shima, Parwati, menikah dengan putera mahkota Kerajaan Galuh yang bernama Mandiminyak, yang kemudian menjadi raja kedua dari Kerajaan Galuh. Maharani Shima memiliki cucu yang bernama Sanaha yang menikah dengan raja ketiga dari Kerajaan Galuh, yaitu Brantasenawa. Sanaha dan Bratasenawa memiliki anak yang bernama Sanjaya yang kelak menjadi raja Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh (723-732 M). Setelah Maharani Shima meninggal di tahun 732 M, Sanjaya menggantikan buyutnya dan menjadi raja Kerajaan Kalingga Utara yang kemudian disebut Bumi Mataram, dan kemudian mendirikan Dinasti/Wangsa Sanjaya di Kerajaan Mataram Kuno.

RUMUSAN MASALAH

  1. Bagaimana kehidupan politik, sosial, ekonomi, serta agama di Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Kalingga?

TUJUAN

  1. Memahami kehidupan politik, sosial, ekonomi, serta agama di Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Kalingga.

BAB II

PEMBAHASAN

KERAJAAN SRIWIJAYA

  1. LETAK GEOGRAFIS DAN SUMBER SEJARAH

Kerajaan Sriwijaya terletak di Sumatera bagian selatan, dengan pusat pemerintahan di tepi Sungai Musi. Wilayahnya meliputi Kamboja, Thailand, Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Dengan wilayah yang telah dikuasai itulah Kerajaan Sriwijaya dapat menjadi kerajaan maritime yang besar. Sumber sejarah mengenai keberadaan Kerajaan Sriwijaya adalah beberapa peninggalan berupa tulisan (prasasti) dan candi.

  1. KEHIDUPAN POLITIK

Kehidupan politik kerajaan Sriwijaya dapat ditinjau dari raja-raja yang memerintah, wilayah kekuasaan, dan hubungannya dengan pihak luar negeri.

  1. Raja yang Memerintah (yang terkenal)
  • Dapunta Hyang Sri Jayanasa

Dapunta Hyang Sri Jayanasa merupakan pendiri kerajaan Sriwijaya. Pada masa pemerintahannya, ia berhasil memperluas wilayah kekuasaan sampai wilayah Jambi dengan menduduki daerah Minangatamwan yang terletak di dekat jalur perhubungan pelayaran perdagangan di Selat Malaka. Sejak awal ia telah mencita-citakan agar Sriwijaya menjadi kerajaan maritim.

  • Balaputera Dewa

Awalnya, Balaputradewa adalah raja di Kerajaan Syailendra. Ketika terjadi perang saudara antara Balaputra Dewa dan Pramodhawardani (kakaknya) yang dibantu oleh Rakai Pikatan (Dinasti Sanjaya), Balaputra Dewa mengalami kekalahan. Akibatnya ia lari ke Kerajaan Sriwijaya, dimana Raja Dharma Setru (kakak dari ibu Raja Balaputra Dewa) tengah berkuasa. Karena ia tak mempunyai keturunan, ia mengangkat Balaputradewa sebagi raja.

Masa pemerintahan Balaputradewa diperkirakan dimulai pada tahun 850 M. Sriwijaya mengalami perkembangan pesat dengan meingkatkan kegiatan pelayaran dan perdagangan rakyat. Pada masa pemerintahannya pula, Sriwijaya mengadakan hubungan dengan Kerajaan Chola dan Benggala (Nalanda) dalam bidang pengembangan agama Buddha, bahkan menjadi pusat penyebaran agama Buddha di Asia Tenggara.

  • Sri Sanggarama Wijayatunggawarman

Pada masa pemerintahannya, Sriwijaya dikhianati dan diserang oleh kerajaan Chola. Sang raja ditawan dan baru dilepaskan pada masa pemerintahan Raja Kulottungga I di Chola.

  1. Wilayah Kekuasaan

Setelah berhasil menguasai Palembang, ibu kota Kerajaan Sriwijaya dipindahakan dari Muara Takus ke Palembang. Dari Palembang, Kerajaan Sriwijaya dengan mudah menguasai daerah-daerah di sekitarnya seperti Pulau Bangka di pertemuan jalan perdagangan internasional, Jambi Hulu di tepi Sungai Batanghari dan mungkin juga Jawa Barat (Tarumanegara). Maka dalam abad ke-7 M, Kerajaan Sriwijaya berhasil menguasai kunci-kunci jalur perdagangan yang penting seperti Selat Sunda, Selat Bangka, Selat Malaka, dan Laut Jawa bagian barat.

Pada abad ke-8 M, perluasan Kerajaan Sriwijaya ditujukan ke arah utara, yaitu menduduki Semenanjung Malaya dan Tanah Genting Kra. Pendudukan terhadap daerah Semenanjung Malaya bertujuan untuk menguasai daerah penghasil lada dan timah. Sedangkan pendudukan terhadap daerah Tanah Genting Kra bertujuan untuk menguasai lintas jalur perdagangan antara Cina dan India. Tanah Genting Kra sering dipergunakan oleh para pedagang untuk menyeberang dari perairan Lautan Hindia ke Laut Cina Selatan untuk menghindari persinggahan di pusat Kerajaan Sriwijaya.

Daerah lain yang menjadi kekuasaan Sriwijaya diantaranya Tulang-Bawang yang terletak di daerah Lampung dan Kedah yang terletak di pantai barat Semenanjung Melayu untuk mengembangkan usaha perdagagan dengan India. Selain itu, diketahui pula berdasarkan berita dari China, Sriwijaya menggusur kerajaan Kalingga agar dapat mengusai pantai utara Jawa karena merupakan jalur perdagangan yang penting.

Pada akhir abad ke-8 M, Kerajaan Sriwijaya telah berhasil menguasai seluruh jalur perdagangan di Asia Tenggara, baik yang melalui Selat Malaka, Selat Karimata, dan Tanah Genting Kra.

  1. Hubungan dengan Luar Negeri

Kerajaan Sriwijaya menjalin hubungan baik dengan kerajaan-kerajaan di luar wilayah Indonesia, terutama dengan kerajaan-kerajaan yang berada di India, seperti Kerajaan Pala/Nalanda di Benggala. Raja Nalanda, Dewapala Dewa menghadiahi sebidang tanah untuk pembuatan asrama bagi pelajar dari nusantara yang ingin menjadi ‘dharma’ yang dibiayai oleh Balaputradewa.

  1. KEHIDUPAN SOSIAL

Dengan banyaknya pedagang yang singgah di Sriwijaya memungkinkan masyarakatnya berkomunikasi dengan mereka, sehingga dapat mengembangkan kemampuan berkomunikasi masyarakat Sriwijaya. Kemungkinan bahasa Melayu Kuno telah digunakan sebagai bahasa pengantar terutama dengan para pedagang dari Jawa Barat, Bangka, Jambi dan Semenanjung Malaysia. Perdagangan internasional ini juga membuat kecenderungan masyarakat menjadi terbuka akan berbagai pengaruh dan budaya asing, salah satunya India.

Budaya India yang masuk berupa penggunaan nama-nama khas India, adat istiadat, dan juga agama Hindu-Buddha. I-tsing menerangkan bahwa banyak pendeta yang datang ke Sriwijaya untuk belajar bahasa Sanskerta dan menyalin kitab kitab suci agama Buddha. Guru besar yang sangat terkenal di massa itu adalah Sakyakirti yang mengarang buku Hastadandasastra.

Kerajaan Sriwijaya mencapai puncak kejayaan pada abad ke-8 M dan ke-9 M, hal ini didukung oleh beberapa faktor. Faktor pendukung tersebut, antara lain :

  • Letak Sriwijaya yang strategis, (berada di jalur perdagangan antara India dan China).
  • Runtuhnya Kerajaan Funan di Indochina (Vietnam) akibat serangan dari Kam
  • Majunya aktivitas pelayaran dan perdagangan antara India dan China.
  • Memiliki armada laut yang kuat.
  • Melayani distribusi ke berbagai wilayah di

Namun, pada akhir abad ke-12 M, Kerajaan Sriwijaya mengalami kemunduran. Hal ini dikemukakan oleh Chau-Yu-Kua (berita China) yang diperkuat juga dengan kitab sejarah dari Dinasti Sung yang menyatakan bahwa Sriwijaya mengirimkan utusan terakhirnya pada tahun 1178.

Faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran Sriwijaya, antara lain :

  • Kerajaan Sriwijaya diserang oleh Kerajaan Colamandala dari India secara berulang-ulang.
  • Kerajaan yang sebelumnya sudah ditaklukan oleh Sriwijaya (Ligor, Tanah Kra, Kelantan, Pahang, Jambi, dan Sunda) melepaskan diri dari Sriwijaya.
  • Sriwijaya terdesak oleh berkembangnya Kerajaan di Thailand yang meluaskan pengaruhnya ke arah selatan menuju Semenanjung Malaya. Selain itu, Sriwijaya juga terdesak dengan adanya pengaruh Kerajaan Singasari yang menjalin hubungan dengan Kerajaan Melayu di Jam
  • Mundurnya perekonomian dan perdagangan Kerajaan Sriwijaya karena banyak bandar yang dianggap penting justru melepaskan diri dari Sriwijaya.
  1. KEHIDUPAN EKONOMI

Pada awalnya kehidupan ekonomi masyarakat Sriwijaya bertumpu pada bidang pertanian. Namun karena letaknya yang strategis, yaitu di persimpangan jalur perdagangan internasional, membuat hasil bumi menjadi modal utama untuk memulai kegiatan perdagangan dan pelayaran.

Karena letak yang strategis pula, para pedagang China yang akan ke India bongkar muat di Sriwijaya, dan begitu juga dengan pedagang India yang akan ke China. Dengan demikian. pelabuhan Sriwijaya semakin ramai hingga Sriwijaya menjadi pusat perdagangan se-Asia Tenggara. Perairan di Laut Natuna, Selat Malaka, Selat Sunda, dan Laut Jawa berada di bawah kekuasaan Sriwijaya.

  1. KEHIDUPAN AGAMA

Kehidupan agama masyarakat Sriwijaya dipengaruhi oleh datangnya pedagang India. Pertama adalah agama Hindu, kemudian agama Buddha. Agama Buddha diperkenalkan di Sriwijaya pada tahun 425 Masehi. I Tsing melaporkan bahwa Sriwijaya menjadi rumah bagi sarjana Buddha sehingga menjadi pusat pembelajaran agama Buddha, khususnya aliran Mahayana. Selain itu, ajaran Buddha aliran Buddha Hinayana juga turut berkembang di Sriwijaya. Nama Dharmapala dan Sakyakirti pun tak asing lagi. Dharmapala adalah seorang guru besar agama Budha dari Kerajaan Sriwijaya. Ia pernah mengajar agama Budha di Perguruan Tinggi Nalanda (Benggala). Sedangkan Sakyakirti adalah guru besar juga. Ia mengarang buku Hastadandasastra.

Sangat dimungkinkan bahwa Sriwijaya yang termahsyur sebagai bandar pusat perdagangan di Asia Tenggara menarik minat para pedagang dan ulama muslim dari Timur Tengah. Sehingga beberapa kerajaan yang semula merupakan bagian dari Sriwijaya, kemudian tumbuh menjadi cikal-bakal kerajaan-kerajaan Islam di Sumatera kelak, disaat melemahnya pengaruh Sriwijaya.

KERAJAAN KALINGGA (HOLING)

  1. LETAK GEOGRAFIS DAN SUMBER SEJARAH

Kalingga merupakan nama kerajaan bercorak Buddha di Jawa Tengah yang berdiri pada sekitar abad ke-7 Masehi. Cerita Cina pada zaman Dinasti Tang (618 M – 906 M) memberikan keterangan tentang Ho-ling sebagai berikut.

Catatan dari berita China ini juga menyebutkan bahwa sejak tahun 674rakyat Ho-ling diperintah oleh Ratu Hsi-mo (Shima). Ia adalah seorang ratu yang sangat adil dan bijaksana. Pada masa pemerintahannya Kerajaan Ho-ling sangat aman dan tentram. Berdasarkan catatan dari berita China, lokasi Kerajaan Kalingga diperkirakan berada di Kecamatan Keling, Jepara, Jawa Tengah.

Catatan I-Tsing (tahun 664/665 M) menyebutkan bahwa pada abad ke-7 M, tanah Jawa telah menjadi salah satu pusat pengetahuan agama Buddha Hinayana. Di Ho-ling ada pendeta Cina bernama Hwining, yang menerjemahkan salah satu kitab agama Buddha ke dalam Bahasa Cina. Ia bekerjasama dengan pendeta Jawa bernama Janabadra. Kitab terjemahan itu antara lain memuat cerita tentang Nirwana, tetapi cerita ini berbeda dengan cerita Nirwana dalam agama Buddha Hinayana.

Sumber sejarah mengenai keberadaan Kerajaan Kalingga adalah beberapa peninggalan berupa tulisan (prasasti), candi, dan catatan dari berita China.

  1. KEHIDUPAN POLITIK

Menurut berita China, Kerajaan Holing atau Kalingga diperintah oleh seorang wanita bernama Ratu Sima. Masa pemerintahannya dimulai sekitar tahun 674 M.

Kepemimpinan Ratu Sima sangat keras, namun adil dan bijaksana. Setiap pelanggar diberikan sanksi tegas. Tidak peduli apakah pelanggar tersebut adalah warga istana atau bukan. Rakyat selau tunduk dan taat pada Ratu Sima, begitu juga dengan pejabat kerajaan. Oleh karena itu ketertiban dan ketentraman di Kalingga berjalan dengan baik.

Menurut naskah Carita Parahyangan, Ratu Sima memiliki cucu bernama Sahana yang menikah dengan Raja Brantasenawa dari Kerajaan Galuh. Sahana memiliki anak bernama Sanjaya yang kelak menjadi Dinasti Sanjaya. Sepeninggalan Ratu Sima, Kerajaan Kalingga ditaklukan oleh Kerajaan Sriwijaya.

  1. KEHIDUPAN SOSIAL

Pada tahun 674 Masehi, Kerajaan Kalingga/Holing diperintah oleh seorang raja putri yang bernama Ratu Sima. Ratu sima merupakan raja yang terkenal di pemerintahan Kerajaan Holing. Di bawah kekuasaan Ratu Sima ini, Kerajaan Kalingga/Holing mengalami masa kejayaan. Pada saat itu, semua rakyat hidup dengan tenteram dan makmur. Mereka tunduk dan patuh terhadap segala perintah Ratu Sima bahkan tidak ada seorang pun rakyat atau pejabat kerajaan yang berani melanggarnya.

Pada suatu hari, ada seorang raja yang sangat penasaran dengan kejujuran rakyat Holing. Raja itu bernama Raja Tache. Ia berkeinginan untuk menguji kejujuran rakyat Holing. Untuk membuktikannya, Raja Tache mengirim utusan ke Holing. Utusan tersebut diperintahkan untuk meletakkan pundi-pundi emas secara diam-diam di tengah jalan dekat keramaian pasar. Tetapi tidak ada seorang pun yang berani menyentuh pundi-pundi emas tersebut hingga 3 tahun lamanya. Namun, pada suatu hari ada seorang anggota istana yang sedang berjalan-jalan melewati pasar tersebut. Ketika berjalan, kaki anggota istana tidak sengaja menyenggol pundi-pundi emas. Salah seorang warga melihat kejadian itu dan ia melaporkan kepada pemerintah kerajaan. Laporan tersebut terdengar oleh Ratu Sima. Ia langsung memerintahkan kepada hakim untuk membunuh kerabatnya sendiri. Ratu Sima menganggap itu merupakan tindakan kejahatan pencurian.

Beberapa patih kerajaan tidak setuju dengan keputusan yang diambil oleh ratu sima. Mereka mengajukan pembelaan untuk anggota istana kepada Ratu Sima. Mereka meminta agar tidak dibunuh melainkan hanya dipotong kakinya saja. Pembelaan patih kerajaan disetujui oleh Ratu Sima.

  1. KEHIDUPAN EKONOMI

Perekonomian Kerajaan Kalingga bergerak dibidang perdagangan dan pertanian. Bagi masyarakat yang tinggal di pesisir pantai utara di jawa tengah, perdagangan adalah matapencaharian utama mereka. Letaknya yang cukup strategis membuat kalingga sering disinggahi ooleh para pedagang dari luar negeri. Kalingga merupakan daerah penghasil kulit penyu, emas, perak, cula badak, dan gading. Di Holing ada sumber air asin yang dimanfaatkan untuk membuat garam. Hidup rakyat Holing tenteram, karena tidak ada kejahatan dan kebohongan. Berkat kondisi itu rakyat Ho-ling sangat memperhatikan pendidikan.buktinya rakyat ho-ling sudah mengenal tulisan,selain tulisan masyarakat Ho-ling juga telah mengenal ilmu perbintangan dan dimanfaat dalam bercocok tanam.

Sementara itu, sebagian masyarakat yang tinggal di pedalaman yang subur, memanfaatkan kondisi tanah yang subur tersebut untuk mengembangkan sektor pertanian. Hasil-hasil pertanian yang diperdagangkan antara lain beras dan minuman. Penduduk kalingga dikenal pandai membuat minuman berasal dari bunga kelapa dan bunga aren. Minuman tesebut memiliki rasa manis dan dapat memabukkan. Dari hasil perdagangan dan pertanian tersebut, penduduk kalingga hidup makmur.

  1. KEHIDUPAN AGAMA

Dalam catatan I Tsing, pada tahun 664-667, pendeta Budha Cina bernama Hwi-ning dengan pembantunya Yun-ki datang ke Ho-ling. Mereka bersama dengan Joh-napo-t’o-lo menerjemahkan kitab Buddha bagian nirwana. Akan tetapi kitab yang diterjemahkan tersebut sangat berbeda dengan Kitab Suci Budha Mahayana, dengan demikian jelas bahwa holing bukan merupakan penganut agama Budha Mahayana, tetapi menganut agama Budha Hinayana aliran Mulasarastiwada.

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

  • Kehidupan politik kerajaan Sriwijaya ditinjau berdasarkan raja-rajanya, wilayah yang dikuasainya, dan hubungannya dengan pihak luar negeri.
  • Kehidupan sosial kerajaan Sriwijaya banyak dipengaruhi oleh kebudayaan India.
  • Perekonomian kerajaan Sriwijaya bergerak di bidang pertanian, perdagangan, serta pelayaran. Perekonomian Sriwijaya didukung oleh letaknya yang sangat strategis.
  • Agama Buddha Mahayana merupakan agama yang sangat berkembang di Sriwijaya. Bahkan Sriwijaya menjadi pusat penyebaran Buddha Mahayana.
  • Kehidupan politik kerajaan Kalingga berhubungan dengan kepemimpinan Ratu Sima sebagi raja yang tegas dan bijaksana.
  • Kehidupan sosial kerajaan Kalingga berjalan tertib dan teratur.
  • Perekonomian Kalingga bertumpu di bidang pertanian dan perdagangan.
  • Diperkirakan agama yang dianut oleh Kerajaan Kalingga adalah Buddha Hinayana.

DAFTAR PUSTAKA

Indonesia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2014. Sejarah Indonesia (Edisi Revisi) SMA/MA dan SMK/MAK kelas X Semester 1. Jakarta : Balitbang Kemendikbud.

Sosial, Tim Penyusun Ilmu. 2014. Sejarah Indonesia SMA/MA dan SMK/MAK kelas X Semester 1. Klaten : Viva Pakarindo.

http://asapworld.blogspot.com/2011/10/kerajaan-sriwijaya.html

http://belasejarah.wordpress.com/2010/08/26/kerajaan-ho-ling-kalingga/

http://ellanputra.blogspot.com/2012/08/nama-nama-raja-sriwijaya.html

http://ghozshi.blogspot.com/2009/12/kerajaan-holing.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Kalingga

http://id.wikipedia.org/wiki/Sriwijaya

http://my.opera.com/gethoshop/blog/kerajaan-sriwijaya-ii

http://rahmandiligent.blogspot.com/p/kerajaan-sriwijaya.html

http://ratiffany.blogspot.com/2013/03/kerajaan-kalinggaho-ling-kerajaan.html

http://rifkiberbagiilmu.blogspot.com/2013/05/aspek-kehidupan-kerajaan-hindu-budha.html

http://suwandi-sejarah.blogspot.com/2010/09/kerajaan-sriwijaya.html

http://teknikbermain.blogspot.com/2012/05/sejarah-lengkap-kerajaan-sriwijaya.html

http://tulastulispratama.blogspot.com/2012/08/makalah-kerajaan-sriwijaya.html

http://wartasejarah.blogspot.com/2013/10/kerajaan-kalingga-holing.html

http://www.anneahira.com/kerajaan-kalingga.htm

http://www.kidnesia.com/Kidnesia/Archive/Sejarah-Indonesia/Zaman-Pra-Kolonial/Tahun-0-599/Sekitar-Tahun-500-Sriwijaya

http://www.sabenggo.com/2013/12/sejarah-kerajaan-kalingga.html

http://www.sibarasok.com/2013/07/sejarah-kerajaan-sriwijaya.html

http://www.wacananusantara.org/kerajaan-kalingga/

http://www.materisma.com/2014/02/sejarah-kerajaan-sriwijaya.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s